Cafe Sawah, Integritas Diri Dipertaruhkan

Meskipun kondisi badan gak memungkinkan untuk beraktivitas mejalani hari-hari, kenapa tidak? Kondisi tubuh drop dengan tensi darah sekitar 70, terserang diare dan bahkan sakit gigi yang sangat cenat-cenut. Waduh, alangkah komplitnya yang kualaami waktu ini. Namun karena tugas dan tanggungjawab dengan sangat amat terpaksa harus memfasilitasi dan mendampingi Tim Pelaksana Inovasi Desa (TPID) Kecamatan Mangaran Situbondo saat melakoni tahapan Program Inovasi Desa (PID) yang diluncurkan oleh Kementrian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, Dan Transmigrasi (KPDTT) untuk menjalani Study Tour ke Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) Pujon Kidul Kecamatan Pujon Kabupaten Malang sebagai tahapan dukungan replikasi inovasi.

Dan yang lebih ironis, di kecamatan Mangaran ada 2 (dua) orang Pendamping Desa (PD) dan 2 (dua) orang Pendamping Lokal Desa semuanya hanya ikut dan tunduk putusan alias tidak peduli akan persiapan segala sesuatunya untuk berangkat belajar bersama. Ada yang menunggu rombongan di Malang, ada yang tidak bisa ikut alasan sakit dan yang lebih parah, selama menjadi pendamping di wilayahku tidak pernah hadir di lokasi tugas (hanya akhir bulan ke lokasi tugas untuk mintaa tandatangan kelengkapan laporan bulanan sebagai prsayarat pencairan gaji) oppss..!!!

Hari Minggu, 16 Desember 2018 Jam 22.00 WIB, sesuai dengan scedule yang ditentukan panitia semua peserta untuk berkumpul di halaman Kantor Kecamatan Mangaran untuk berangkat ke Kota dingin tersebut. Berbagai bincang-bincang peserta sembari menunggu angkutan (travel), mulai dari persoalan pribadi masing-masing, urusan desa, urusan tanah dan ngalor ngidul perbincangan karena sampai jam 00.00 WIB belum kunjung datang.

Pas jam 01.00 WIB travel tiba di kantor kecamatan, dan semua barang-barang kebutuhan pribadi dan program mulai dimasukkan dalam mobil. Dari saking capeknya, saya langsung teler terlelap diantara sepinya malam itu.

Eh, hampir perbatasan situbondo, tepatnya di daerah Banyuglugur perutku gak bisa dikompromi dang pingin beol (sorry jorok). Terpaksa memanggil sopir untuk berhenti sejenak dilokasi pom bensin Utama Raya, bahkan dalam perjalanan ke lokasi tujuan sekitar 7-8 kali sopir disuruh berhenti mencari toilet. Apes dan malu benar aku hari ini kepada peserta rombongan.

Nyampek di Pujon Kidul, masih aku yang komunikasi dengan pihak BUMDes terkait administrasi sebagai laporan kegiatan, termasuk konsep acara sebagai acuan kegiatan ini dilaksanakan. Dalam pikirku, semoga aku gak pingsan saat acara berlangsung. Setelah acara berlangsung, saatnya untuk mengunjungi unit usaha BUMDes tersebut ke Area Cafe Sawah. Woow.. Luar biasa...!!! Kenapa tidak, omset yang dihasilkan selama sehari kurang lebih 50-60 juta rupiah sebagai asset desa.

CAFE SAWAH

Mata terpanah saat melihat kondisi Cafe Sawah, masyarakat sekitar punya penghasilan dengan berjualan dan bahkan membuka stand-stand di pinggiran area yang dikelola BUMDes dan siktar 250 orang berkeja sebagai karyawan yang nota bene honor diterima rata-rata Rp. 1.500.000,- Itu beda dengan pengurus yang sudah hampir puluhan juta rupiah perbulan.

Dan yang lebih mengagumkan, selain memang view yang ditawarkan sebagai wisata, desa mengeluarkan kebijakan kalau investor dilarang masuk dan menanam saham ke desa tersebut. Harus orang asli desa itu yang mempunyai usaha di wilayahnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar